ALAMAT KANTOR

ALAMAT KANTOR :
Jalan Kuranji KM 1,2 Sebamban III Blok C, RT 001, Desa Kerta Buwana

Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, Kode Pos 72274

Alamat e-Mail : kertabuwana.desa@gmail.com

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ngaben 20151010



KREMASI NGABEN BAPAK “FOUNDING FATHER” DESA KERTA BUWANA

NGABEN (menurut situs balitour.net) adalah upacara pembakaran jenazah di Bali yang sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara karena keunikannya. Ngaben biasanya lazim disebut KREMASI sebagai istilah umumnya. Sesungguhnya kremasi tak hanya dilakukan oleh umat Hindu, tapi oleh beberapa umat agama lain. Namun, hanya di Bali-lah ditemukan prosesi pembakaran jenazah yang begitu unik, semarak, megah, dan penuh kesenian.
Dalam situs pujabalitour.com dikatakan, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terdiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya.

Tak hanya di Bali, Upacara Ngaben juga dapat ditemukan di luar Bali, seperti halnya saat ini (Sabtu 10/10/2015) Upacara Kremasi Ngaben yang dipuput (dipimpin) oleh IDA PERANDA (dari Kintap) ini diadakan di Desa Kerta Buwana, Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Adalah Jro Mangku Ketut Suweden, seorang tokoh masyarakat dan tokoh Agama yang akan diabenkan (dikremasi –red). Almarhum juga seorang Pinandita, rohaniawan, Pemangku Pura Desa di Desa Kerta Buwana.

Rangkaian Prosesi Ngaben yang dimulai sejak pukul 8 pagi di rumah duka RT 01 Dusun Indra Berata dipadati ratusan warga masyarakat desa setempat maupun luar desa yang sudah bersiap-siap ikut mengantarkan jenazah Almarhum untuk dikremasi ke perabuan setra (tempat pemakaman) berada di RT 11 Dusun Pulosari Desa Kerta Buwana.

Tampak hadir Bapak H Sudian Noor, calon wakil bupati Tanah Bumbu bersama Anggota Dewan Bapak I Wayan Sudarma dan Bapak Endan beserta rombongan dan tokoh masyarakat Bapak H Suwignyo bersama-sama ditengah-tengah warga desa menuju tempat kremasi yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumah duka.

Menurut beberapa warga, almarhum Bapak Ketut Suweden disebut-sebut sebagai “FOUNDING FATHER” nya Desa Kerta Buwana.
Sebutan sebagai “pendiri desa” rasanya tak berlebihan mengingat jasa-jasa dan perjuangan beliau dimasa-masa awal transmigrasi tahun 1981.
Berdasarkan Situs Desa Kerta Buwana http://kertabuwana-desa.blogspot.co.id/ yang memuat sejarah desa menyebutkan :
Pada awalnya Desa Kerta Buwana merupakan daerah hamparan hutan  yang oleh penduduk lokal / setempat digarap secara nomaden / ladang berpindah. Agar daerah ini berkembang maka pemerintah pada saat itu mengirim warga transmigran untuk menempati wilayah pemukiman. Warga Transmigran yang dikirim ke wilayah ini melalui beberapa trip. Tanggal 21 Pebruari 1981 merupakan Trip pertama masuk kewilayah ini. Trip terakhir Tanggal 7 September 1981, seluruh trip berasal dari Provinsi Bali berjumlah 362 KK.
Seiring berjalannya waktu, Tanggal 1 Oktober 1983 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) C III diusulkan menjadi desa persiapan. Pada tanggal 13 Maret 1985 sah menjadi desa persiapan  dengan nama Desa Persiapan Kerta Buwana berdasarkan SK Bupati Dati II Kotabaru No: 1-0-12-2-PKD/1985. Nama Kerta Buwana berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti Jagat (alam) yang Tentram. Setelah diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk II Kotabaru maka diangkat seorang Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Bapak I Ketut Suweden (1988 – 1991). Perjuangan tidak cukup sampai disana untuk menjadikan Desa Persiapan Kerta Buwana menjadi desa definitif. Pada tanggal 27 Desember 1988 Desa Persiapan Kerta Buwana resmi menjadi desa yang definif berdasarkan SK Gubernur KDH. Tk I Kalimantan Selatan No : 0454 Tahun 1988 dengan kode desa 63.02.07.20.48.


Artikel Berita oleh : 
I Wayan Sukadana, S.Hut



Kamis, 16 Juli 2015

PENJOR GALUNGAN



LOMBA PENJOR GALUNGAN : ANTARA MAKNA RELIGIUS DAN ESTETIKA

Kerta Buwana – Perayaan Hari Raya Galungan dalam Hindu khusunya masyarakat Bali identik dengan Penjor. Tak lepas warga masyarakat Bali yang ada di Desa Kerta Buwana Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel pun dalam perayaan Hari Galungan yang jatuh pada hari Rabu (15/7/2015) masing-masing memasang penjor di depan pintu masuk pekarangan rumah. Penjor yang dipasang kali ini adalah penjor sakral yang berhubunganh dengan ritual keagamaan. Penjor ini berbeda dengan penjor hiasan yang dipasang seperti pada saat acara lomba desa, acara undangan pengantin, dan lain lain.

Menurut Babad Bali pada halaman situsnya di http://www.babadbali.com/canangsari/hkt-penjor-penggunaan.htm menyebutkan :
Penjor merupakan salah satu sarana Upakara dalam merayakan Hari Raya Galungan, adalah lambang pertiwi bhuwana agung, alam semesta kita ini dengan segala hasilnya yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Bahan penjor terdiri dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan daun kelapa/ daun enau yang muda serta daun- daunan lainnya (Plawa).
Perlengkapan Penjor adalah pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra (sanggah cucuk yang dibuat dari bambu, sebagai lambang Hyang Ardha Candra) lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga.

Tujuan pemasangan penjor yakni sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi Wasa atas kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.
Pemasangan penjor dilaksanakan pada hari Anggara Wage wara Dungulan (sehari sebelum Galungan).
Penjor dipasang atau ditancapkan pada "lebuh" di depan sebelah pintu masuk pekarangan rumah. Sedangkan sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan.
Penjor dapat dicabut pada hari Redite Umanis Langkir (sehari setelah Kuningan). Sementara itu perlengkapan seperti sampian, lamak serta perlengkapan upakara Galungan lainnya dapat dibakar dan abunya sebagian disimpan pada kelapa gading muda yang dikasturi.
Pada hari Budha Kliwon Pahang (35 hari setelah Hari Raya Galungan), abu dalam kelapa gading tersebut di atas dilengkapi dengan sarana kawangen dan 11 uang kepeng/ logam selanjutnya ditanam di pekarangan rumah atau dihanyutkan disertai permohonan pakukuh jiwa urip (kadirgayusan).

Melihat makna religius yang terkandung dalam Filosofi sebuah Penjor disamping Estetika seni keindahannya, wajarlah pada akhirnya Karang Taruna Buwana Sari didukung Pemerintah Desa Kerta Buwana berinisiatif mengadakan penilaian Penjor yang dipasang untuk menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan kali ini.

Menurut Komang Muliadi, Ketua Karang Taruna Buwana Sari bersama panitia lomba, ada beberapa kriteria penilaian dalam lomba menghias penjor yang akan menjadi poin sebagai tolak ukurnya antara lain Kelengkapan Penjor meliputi Sanggah, Pala Bungkah, Pala Gantung maupun Pala Wija, Sampian Penjor, Lamak, Ceniga dan Kain. Dari kelengkapan masing-masing unsur penjor tersebut akan dinilai kreasi serta keindahan penjor secara keseluruhan.

Kepala Desa Kerta Buwana, I Gusti Kadek Arsana yang ikut mendampingi penilaian lomba penjor Selasa sore (14/7/2015) mengatakan bahwa kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan di Desa Kerta Buwana. Gusti Arsana mengatakan masih banyak terdapat kekurangan dalam pelaksanaan penilaian lomba menghias penjor kali ini, namun demikian pihaknya sangat menyambut baik atas inisiatif dan partisipasi Karang Taruna Buwana Sari dalam menyambut dan memeriahkan Hari Raya Galungan tahun ini yang juga bertepatan dengan Perayaan Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.
Ke depannya, Kepala Desa berharap kegiatan semacam ini tetap dapat terlaksana kembali, tentunya lebih baik lagi dengan persiapan dan dengan dukungan semua pihak, terutama kerjasama antara Desa Dinas dan Desa Adat Kerta Buwana, disamping partisipasi dari Karang Taruna Desa maupun Truna Truni Desa Adat dan seluruh lapisan masyarakat Desa Kerta Buwana.

Dari hasil penilaian lomba menghias penjor di 3 Dusun dan 13 RT di Desa Kerta Buwana yang dilaksanakan selama 2 hari oleh panitia, puncaknya adalah pengumuman pemenang dan pembagian hadiah yang ditunggu-tunggu oleh para seserta, akhirnya Rabu malam (15/7/2015) disaksikan ratusan lebih pasang mata disela-sela hiburan organ tunggal yang digelar oleh Panitia, 10 pemenang dengan kategori 9 peserta terbaik dan 1 peserta Juara Umum satu persatu memasuki panggung hiburan untuk menerima hadiah.
Dan pada puncaknya, atas nama I Ketut Suryawan dari Dusun Pulosari RT 11 berhak mendapat Hadiah sekaligus tropi Piala sebagai juara Umum pemenang Lomba Penjor menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan yang diserahkan langsung oleh Kepala Desa Kerta Buwana, I Gusti Kadek Arsana. *iws

(Berita oleh : I Wayan Sukadana, S.Hut)

Sabtu, 06 Juni 2015

Jangan Bangga akan Kemenangan, Jangan Malu karena Kekalahan, Bersyukurlah untuk Keduanya...

KURANJI CUP - CHAMPION 2015

Grand Final
Buwana FC Desa Kerta Buwana vs Casturin FC Desa Ringkit,
Lapangan Sepakbola Desa Ringkit Kecamatan Kuranji
Sabtu 6 Juni 2015

Buwana FC, Desa Kerta Buwana Kecamatan Sungai Loban





Jangan takut mengambil resiko, jika Anda berhasil Anda akan bahagia, jika Anda gagal Anda akan lebih bijaksana...


Tony Adams: “Bermainlah untuk siapapun yang tertera di bagian depan kausmu, dan semua orang akan mengingat siapapun yang tertera di bagian belakang kaus itu.”





Tak masalah seberapa sering Anda jatuh yang terpenting seberapa cepat Anda bangkit...




Seorang Kiper memang tidak mencetak Gol, tapi jika Kiper tidak ada, 100 gol akan tercipta di Gawang mu...


Jangan Bangga akan Kemenangan, Jangan Malu karena Kekalahan,
Bersyukurlah untuk Keduanya...